PURBALINGGA- Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM mendorong agar botania garden (BOGAR) Desa Karangcengis Kecamatan Bukateja yang saat ini dikelola kelompok sadar wisata (pokdarwis) kedepan untuk dikembangkan menjadi badan usaha milik desa (BUMDES). Dengan BUMDES nantinya BOGAR akan dapat mengakses berbagai bantuan dari Pemerintah Pusat yang cukup banyak dalam rangka mengembangkan destinasi wisata BOGAR ke depan menjadi lebih baik.

“Bantuan pusat untuk BUMDES cukup banyak, eman-eman, karena dengan potensi yang sedemikian baik dan pengelolaannya ditingkatkan menjadi BUMDES, dana bantuan dari pusat akan mudah terserap,” kata Bupati Dyah H Pratiwi saat kegiatan petik buah bareng Bupati, Selasa (16/7).

Bupati Dyah H Pratiwi melihat selama 2 tahun sejak diresmikan pada Maret 2017, BOGAR telah banyak perkembangan dan saat ini menjadi salah satu ikon wisata Purbalingga khususnya di Kecamatan Bukateja. Dirinya berharap peningkatan BOGAR menjadi BUMDES akan lebih berkembang makin baik dengan pemberdayaan masyarakatnya. Ke depan pengelolaan BOGAR selain pada pengembangan infrastruktur juga harus ada pengembangan pengolahan hasil-hasil pertanian.

“Kedepan jangan hanya menjual produk mentahnya saja, namun ada inovasi kreatifitas dari para pengelola dan juga pemerintahan Desa untuk bersama-sama sengkuyung memberdayakan masyarakatnya. Harapannya BOGAR lebih berkembang, dapat meningkatkan perekonomian warga Karangcengis,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dyah H Pratiwi juga berdialog dengan para kadang tani desa Karangcengis yang diwakili oleh bapak Sudarno dan bapak Dalimi yang meminta bantuan solusi permasalahan hasil pertanian yang saat ini kualitasnya semakin menurun. Khususnya buah jeruk saat ini buahnya relatif kecil-kecil dan rasanyapun kalah manis dengan jeruk yang datang dari daerah lain. Kemudian terkait harga pupuk yang terus naik serta masalah infrastruktur jalan yang kurang baik apalagi saat musim penghujan. Menjawab aspirasi dari para kadang tani, Bupati Dyah H Pratiwi segera menginstruksikan kepada dinas terkait yakni Dinas Pertanian (Dinpertan) dan juga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Dinas PUPR) untuk segera turun mengeceknya.

“Untuk permasalahan kualitas buah dan juga kebutuhan pupuk, nanti Dinpertan akan segera turun lakukan survey tanaman dan lahan pertanianya serta mencarikan solusi tingkatkan hasil panennya. Terkait jalan tentunya harus dilakukan verifikasi dulu biar jelas kewenangannya masuk jalan desa atau jalan Kabupaten,” kata Bupati Dyah H Pratiwi.

Sebelumnya dalam kesempatan tersebut, pengelola BOGAR Abdi Legowo menyampaikan wisata buah Botania Garden (BOGAR) yang diresmikan 18 Maret 2017 adalah wisata berbasis edukasi dan petik buah yaitu wisatawan yang berkunjung bisa secara langsung memetik buah serta wisata yang mengedukasi utamanya anak-anak dan dapat mempraktekkannya secara langsung berbagai macam edukasi tentang pertanian. Didirikannya BOGAR bertujuan untuk melengkapi destinasi wisata di Purbalingga utamanya wisata buah. BOGAR merupakan kerjasama dengan petani dengan memanfaatkan kebun buah yang ada yang bertujuan meningkatkan nilai jual hasil panen sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Karangcengis serta membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitarnya.

“Kami laporkan bahwa kunjungan wisatawan ke BOGAR dari mulai bulan Maret 2017 sampai Juli 2019 mencapai 86.155 orang domestik dan 7 orang dari mancanegara. Wahana yang telah dimiliki BOGAR adalah gazebo besar, gubuk singgah, wahana terapi ikan, flying fox, area edukasi tentang hewan (play with animal) serta area hydroponik dan juga toilet,” kata Abdi.

Sedangkan untuk melengkapi wahana yang sudah ada, Abdi melanjutkan dalam upaya menambah kunjungan wisatawan, BOGAR berencana kedepan dan mulai segera realisasikan di tahun 2019 yang pertama membangun d’haren yakni 3 buah gazebo besar untuk rumah makan di tengah kebun. Kedua wahana taman obat keluarga adalah taman edukasi bagi anak-anak karena telah semakin langka wahana mengenalkan anak-anak pada tanaman obat. Ketiga adalah d’jambi (dolanan jaman mbien) yakni tempat dolanan anak-anak seperti jaman dahulu serta d’wani yakni playground keberanian. (t/ humpro2019)